Chau Du Fa Hui, Tradisi Nyadran Ala Tionghoa

WARGA keturunan Tionghoa percaya bahwa antara manusia di dunia dengan orang tua dan leluhur mereka yang sudah meninggal dunia tetap terjalin hubungan bathin. Untuk itu, mereka menggelar upacara tradisi Chau Du Fa Hui yakni upacara nyadran ala Tionghoa.

Secara garis besar, upacara ini hampir sama dengan tradisi nyadran dalam masyarakat Jawa. Mereka melakukan sejumlah prosesi untuk mendoakan arwah orang tua, kakek dan nenek moyang yang sudah meninggal dunia.

Ada beberapa prosesi dalam upacari di antaranya adalah upacara kepada YM Cheng Huang Ye, kemudian upacara mengundang arwah leluhur, uoacara menyeberang jembatan emas dan perak, membersihkan arwah, upacara menghadap YM Tau Yi Tian Zen, upacara persembahan makanan dan ditutup dengan upacara menghantar arwah.

Warga Tionghoa menggunakan berbagai makanan dan minuman yang memiliki simbol dan perlambang tertentu. Seperti kue mangkuk yang melambangkan kemakmuran, kue cetak sebagai simbol harapan panjang umur dan wajik yang bermakna memperat hubungan kekerabatan dan silaturahmi.
Masing-masing makanan tersebut diletakkan di atas meja dan diberi tulis nama leluhur masing-masing keluarga. "Kami percaya bahwa antara kita dan yang sudah hubungan tetap ada hubungan. Tugas kita untuk berbakti pada mereka," jelas Budi Hartoyo, Sektraris Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Keleteng Hok An Kiong Mutilan.

Menurut Budi tujuan upacara Chau Du Fa Hui sama persis dengan tradisi nyadran masyarakat Jawa. Hanya saja cara dan bentuk prosesinya yang berbeda karena terkait faktor tradisi dan kebudayaan yang berbeda.


Replika

Chau Du Fa Hui, Tradisi Nyadran Ala Tionghoa

Jika ada anggota keluarga yang meninggal kurang dari satu tahun, maka mereka harus menyediakan minatur rumah untuk dikirim kepada ke alam baka. Mereka percaya bahwa orang yang baru meninggal membutuhkan tempat tinggal.
Dalam upacara ini juga disediakan replika kapal laut untuk menghantar seluruh doa dan persembahan tersebut. ”Kami mengirimkan makanan, pakaian, sepatu, perhiasan dan lain sebagainya," kata dia.
Ketua Panitia Upacara Chau Du Fa Hui Budiyono menambahkan bahwa pihaknya juga menyediakan altar khusus untuk arwah leluhur yang tidak pernah dirawat ahli warisnya atau yang terputus keturunannya.

"Selesai upacara kami akan membakar replika kapal layar, kertas serta ratusan peti aneka warna. Peti ini berisi pakaian, sepatu, tas, hp dan semua kebutuhan manusia. Ini kami berikan untuk arwah keluarga kami," jelas Budiyono.

Budiyono mengatakan bahwa rangkaian acara tersebut dipimpin oleh Chen Li Wei Dao Chang, murid generasi ke 22 Quan Zhen Long. Ia merupakan tokoh besar warga Tiong Hoa. [suaramerdeka]


Gang Landak di Kampung Naga...

Hanya ada satu gang di kampung itu yang perlu diganti nama. Kepala kampung mengusulkan nama Gang Sri Mulyani. Pemuka adat punya gagasan lain. "Bagaimana kalau Gang Aburizal Bakrie!?" usulnya bersemangat. Tak cuma nama-nama itu. Nama-nama Gang Ani Yudhoyono, Gang Anas Urbaningrum, Gang Surya Paloh juga diusung oleh hadirin lainnya.

Gang itu bernama Gang Reformasi. Sejak diberi nama Reformasi, gang jadi penuh tawuran antar-warga. Toleransi beragama pun sudah mati. Produk-produk yang dijual di dalam gang tersebut juga hampir semuanya produk Cina. Maka kampung itu sering disebut Kampung Naga. Daging dan makanan yang dijual di situ juga semuanya palsu, pakai pengawet dan dari hewan gelondongan

Gang Landak di Kampung Naga...
Harus diganti nama jadi gang apa? Apakah nama Gang Sri akan mampu menghentikan kekacauan penduduk dalam gang?
Kalangan pemuda malah mengusulkan nama Gang Yuni Shara. "Bapak-bapak dan ibu-ibu....Kalau kita ingin Capres yang pro anak muda, tak ada pilihan lain kecuali Yuni Shara!" tandas perwakilan pemuda.
Anak-anak muda bertepuk tangan. Tak demikian dengan para orang tua. Seluruh tetua yang turut dalam musyawarah kampung itu celingukan dengan mulut sedikit ngowoh.    

"Itu kan kalau untuk Capres, lha yang kita cari malam ini kan nama gang?" kata seorang nenek.    
"Justru itu...Justru itu...Sebelum kelak penyanyi Mutiara yang Hilang itu jadi presiden, kampung kita sudah mendahului ...Tunjukkan ke kampung-kampung sebelah bahwa kitalah kampung yang sudah selangkah berpikir ke depan...," perwakilan pemuda itu makin ngeyel.

Ponokawan yang juga hadir dalam rembukan warga itu ganti angkat bicara.
"Walau ndak setuju dengan nama Gang Yuni Shara, saya setuju inti gagasan anak muda. Yaitu, carilah nama-nama yang pro generasi muda.." kata Gareng.

"Betul. Apalagi yang tinggal di gang itu kebanyakan kaum muda," sambung Petruk.
Bagong menimpal, "Kenapa nggak kita namai saja Gang Abimanyu? Dia tokoh muda dari Pandawa lho, Rek."


***
Kepala kampung kelihatannya tertarik pada ide ponokawan. Esoknya diadakan kongkow-kongkow di balai desa. Pak Kepala meminta ponokawan menjelaskan siapa sebenarnya Abimanyu. Warga kampung tahunya sebatas bahwa Abimanyu yang juga bernama Jaka Pengalasan itu anak Arjuna dan Dewi Subadra. Untuk menjadikan tokoh ini sebagai nama gang, perlu digali lagi kisah-kisahnya.

"Biar kami lebih manteb...Monggoooo...." kata Pak Kepala.

Gareng mengawali alkisah dari hilangnya Dewi Banuwati di Astina. Suatu hari bala Kurawa Citraksa dan Durmagati memergoki permaisuri Astina itu melompat pagar taman. Sang Dewi pergi entah ke mana. Laporlah mereka pada sang raja yang juga sang kakak sulung, Duryudana. Raja menitahkan agar segera dilakukan perburuan Dewi Banuwati.

"Apakah perintah ini pura-pura," tanya Durmagati, anggota Kurawa yang gemuk dan bandel.
Duryudana berdehem menahan jengkel. "Andai dia Nazaruddin, mungkin aku pura-pura bikin perintah pencarian. Tapi ini istriku sendiri. Satu-satunya di dunia. Masa' aku api-api alias pura-pura bikin perintah..!? Berangkat!!!"

Segara mangkatlah bala Kurawa. Dengan firasat Patih Sengkuni yang memimpin pencarian buron, sampailah anak-anak Prabu Destarastra itu ke jantung hutan Gajahoya. Tepatnya di dekat Sendang Kamulyan yang dijaga oleh Begawan Badra Asmara. Telaga ini sangat kinclong. Bunyi riak-riak airnyapun menawan, membuat siapa saja yang melihatnya pasti ingin segera kecepak-kecepuk mandi.
Dari kejauhan, Kartamarma si sekjen Kurawa memandang Begawan Badra Asmara sedang memberi petunjuk-petunjuk dan perintah kepada Abimanyu di tepi telaga. Abimanyu mantuk-mantuk. Begawan Badra Asmara lalu pergi.

"Saya punya firasat, kelihatannya tadi Abimanyu diperintahkan untuk menjaga telaga," bisik Kartamarwa yang juga menjabat sebagai paniti sastra Astina.
Mereka lantas bikin siasat. Kembar Citraksa-Citraksi disuruh memanah burung kakatua di pokok pohon di atas sendang. Kakatua terpanah, byur jatuh ke telaga sedarah-darahnya. Air telaga sontak memerah. Abimanyu terperanjat mendapati warna telaga telah berubah. Lebih kaget lagi ia lihat burung kesayangannya mati dengan tancapan panah. Anak kebanggaan Arjuna itu segera mencari sumber anak panah.
Kini telaga bikinan Resi Parasara itu sudah komplang tanpa penjaga. Bala Kurawa yang sedang sembunyi segera mengendap-endap ingin cepat-cepat mandi menyegarkan raga...

"Ssssstttt...." tiba-tiba Kartamarma menghentikan langkah Kurawa. Semua kaget ketika melihat perempuan cantik turun ke dalam telaga. Pelan-pelan. Rambutnya yang panjang terurai mengambang di telanga hingga akhirnya perempuan itu tenggelam. Dia adalah buron yang Kurawa cari-cari: Dewi Banuwati.
Pak Kepala Kampung protes. "Maaf, Pak Gareng. Ini cerita tentang Abimanyu apa tentang Dewi Banuwati ...?"

"Kalau gitu kita namai saja Gang Banuwati," ketus seorang warga sambil beranjak mau pulang.
Petruk menahan kepulangan warga itu. "Sabar. Sabar," bujuknya sambil mendudukkan kembali warga itu. "Nanti cerita Kang Gareng akan berlanjut ke Abimanyu..." tambah Bagong.


***
Cerita Gareng akhirnya memang berlanjut ke Abimanyu.
Jadi, begini, di dalam Sendang Kamulyan sebenarnya ada Arjuna yang sedang bertapa untuk mendapat Wahyu Cakraningrat. Siapapun yang mendapat wahyu kepemimpinan itu keturunannya akan menjadi raja di Nusantara. Dia akan mampu meredam tawuran antarwarga. Dia akan mampu menghidupkan kembali toleransi beragama dan lain-lain.

Banuwati, kekasih gelap Arjuna, ingin agar anaknya menjadi raja. Anaknya adalah Lesmana Mandrakumara yang matanya selalu teler seperti habis make Narkoba dan bahasanya aneh kalau berhadapan dengan wartawan.

Di pihak lain, Subadra, istri kesayangan Arjuna, sangat damba agar anaknyalah, Abimanyu, yang keciperatan Wahyu Cakraningrat. Sebetulnya Begawan Badra Asmara alias Begawan Sumbaga Sakti itu jelmaan padu antara Dewi Subadra dan Batara Kamajaya.

Tapi, apa daya. Jika manusia, Wahyu Cakraningrat itu hidup dan ibarat lelaki.Tidak bisa sendirian. Dia perlu jodoh. Pasangannya Wahyu Widayat yang berjenis kelamin perempuan. Wahyu ini manjing di dalam Dewi Utari.
Abimanyu memang akhirnya menikah dengan Dewi Utari yang masih terhitung eyangnya sendiri namun awet muda. Saking cintanya, meski bukan politisi, Abimanyu berbohong ketika melamar Utari.
Abimanyu mengaku masih perjaka meski sudah beristrikan Siti Sundari, putri Kresna.
"Baiklah aku percaya kamu, wahai cucuku, Abimanyu... Aku bersedia kamu nikahi. Namun kalau kamu berbohong, semoga kelak saat Perang Baratayuda Jayabinangun tubuhmu tatu arang kranjang, tubuhmu ditancapi jutaan anak panak Kurawa hingga wujudmu tak ubahnya landak..."
Bumi gonjang ganjing...


***
Maksud hati memeluk Nazaruddin, apa daya tangan tak sampai...
Maksud hati menawarkan nama dari lakon Abimanyu Landak buat nama gang, apa daya penghuni gang lebih terpukau pada landak. Bukan pada Abimanyu. Menurut mahasiswi yang sedang KKN di situ, mamalia ini nama asingnya porcupine. Ini gabungan Inggris dan Latin yang artinya Babi Berduri. "Larinya bisa lebih cepat dibanding harimau, apalagi cuma naga. Kalaupun terpaksa terkejar, landak memekrokkan duri-duri di badan sekujur. Harimaupun ngeper. Apalagi naga," kata mahasiswi yang mirip Yuni Shara itu.

Kini Gang Reformasi telah diubah aklamatif menjadi Gang Landak. Tawuran antarwarga tak ada lagi. Nafsu berkelahi mereka salurkan melalui berbagai pertandingan sepakbola dan bola voli dengan bola dari landak. Yang makan babi menghormati yang tidak makan babi. Dan sebaliknya. Karena mereka tinggal di Gang "Babi Berduri".

Yang masih kerap muncul tinggal penjualan makanan palsu dan berpengawet. Juga masih membanjirnya produk-produk Cina di gang tersebut.
"Hmmm... Untuk itu, bagaimana kalau kita imbuhi namanya jadi Gang Landak-Perjuangan atau Gang Landak-Keadilan?" usul Gareng.

"Yang penting jangan Gang Kelinci kayak lagunya Lilies Suryani. Nanti gang itu akan jadi gremayah banyak anak...Program KB nggak berhasil," sela Petruk. [sujiwotejo.com]


Budaya Jawa Sarat Nilai

'Adigang, Adigung, Adiguna,.. Ojo Dumeh''

UNGKAPAN Jawa tersebut sering kita dengar, tapi banyak di antara kita tidak mengetahui makna di ballik ungkapan tersebut. Ungkapan tersebut mengajarkan kita agar tidak sombong dan tidak meremehkan orang lain, saat kita berkuasa, karena apa yang dimiliki dapat hilang sewaktu-waktu.

Itulah sekelumit pembahasan tentang nilai-nilai luhur yang terkandung pada ungkapan Jawa pada seminar nasional ''Revitalisasi Nilai-nilai Budaya Jawa dalam Membentuk Generasi Berkarakter'' yang diadakan oleh FIP UNY. Acara yang berlangsung, di ruang Abdullah Sigit FIP UNY, dibuka secara resmi oleh Rektor UNY, Prof Dr Rochmat Wahab MPd MA.

Raja Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengirimkan keynote speech yang dibacakan oleh Joko Dwiyanto MHum, menulis definisi karakter yang berasal dari bahasa latin, kharakter yang bermakna alat untuk menandai, mengukir, atau memahat. Dengan pengertian tersebut, dapat dikatakan membentuk generasi berkarakter adalah proses mengukir atau memahat jiwa sebuah generasi dengan sedemikian rupa sehingga berbentuk unik, menarik yang dapat membedakannya dengan orang lain.

Pesan leluhur Jawa dalam serat wulangreh menyebutkan bahwa keluarga adalah wadah pendidikan pergaulan, watak, norma sosial, tata krama, agama dan pendidikan tentang baik buruk. Tugas keluarga adalah anggaluwentah (mendidik) anak (pamardi siwi) dengan sebaik-baiknya. Maka upaya untuk membentuk generasi berkarakter dimulai dari keluarga kemudian lingkungan sekolah.

Pembicara lain Ir Yuwono Sri Suwito MM menyampaikan topik ''Implementasi Nilai-nilai Budaya Jawa dalam Pendidikan Karakter''. Dia dengan tuntas menjelaskan tentang kearifan lokal Yogyakarta yang terkandung dalam nilai-nilai budaya Jawa Yogyakarta, di antaranya hamemayu hatyuning bawana, dudu sanak dudu kadang yen mati melu kelangan, asih ing sesame, wani ngalah luhur wekasane, aja dumeh, adigang, adigung, adiguna dan masih banyak lagi.

''Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan kepada generasi muda untuk regenerasi bangsa yang tidak hanya mengenal nilai nilai tetapi juga memahami dan menghayati serta mengamalkan nilai-nilai luhur budaya Jawa,'' tegasnya.

Sementara, Bambang Saptono MSi Ketua Pelaksana berharap seminar itu bermanfaat dalam menggali potensi dan memahami nilai-nilai Jawa untuk membentuk generasi berkarakter. [suara merdeka]


Penganut Kejawen Nyadran Berpakaian Jawa

TRADISI nyadran biasanya dilakukan dengan berpakaian Muslim dan melafalkan ayat-ayat suci Al Qur'an. Namun para pengangut kejawen di lereng Gunung Merapi menggelar penyadranan dengan mengenakan pakaian adat Jawa lengkap.

Dengan mengenakan ikat kepala, dan berkain jarit atau sarung, mereka melantunkan kidung-kidung berbahasa Jawa. Kidung Jawa ini mengajarkan manusia untuk selalu berbuat baik pada sesama dan berserah diri pada sang Pencipta.

Prosesi nyadran ini sendiri digelar di petilasan Sunan Giri di Dusun Wonogiri Kidul, Desa Kapuhan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Sunan Giri merupakan salah satu dari Walisongo. Saat menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa, Sunan Giri pernah singgah di petilasan tersebut.
Para pengangut kejawen tersebut terlebih dulu menaburkan aneka bunga dan kemudian membacakan kidung Jawa. Mereka dengan khusuk mengikuti setiap prosesi nyadran. Setelah itu, mereka mendoakan para orang tua yang sudah meninggal dan para leluhur.

"Kami berhutang budi pada leluhur kami yang membuka hutan untuk membangun desa ini," kata Pemuka Adat Kejawen Ki Rekso Jiwo, seusai prosesi nyadran.
Menurut Ki Rekso Jiwo Sunan, pihaknya percaya bahwa Sunan Giri merupakan orang pertama yang membuka hutan di lereng Gunung Merapi. "Saat berdakwah menyebarkan Islam. Beliau singgah di sini dan membuka hutan. Tempat ini sekarang jadi petilasan,’’ jelas dia.

Sejarah
nyadran beskapan n surjanan
Seusai menggelar tradisi nyadran di petilasan Sunan Giri, warga kemudian berjalan kaki menuju makam leluhur mereka di lereng Merapi. Mereka menyusuri jalan setapak kecil yang terjal dan berbatu-batu. Selain berziarah, mereka juga menaburkan bunga dan membacakan kidung Jawa.

Ki Rekso Jiwo kemudian menceritakan sejarah lahirnya manusia Jawa seperti tertuang dalam Serat Sabdo Palon dan Kidung Tuntutan Urip Sejati. Ia juga mengajarkan tentang apa itu ajaran spiritual orang Jawa, dan perkembangan budaya Jawa hingga sekarang.

Dipaparkan, bahwa manusia harus hidup saling menghargai, dan menghormati adat dan kebudayaan masing-masing. Hal ini sesuai dengan inti pelajaran dan wejangan (nasehat) dari Sunan Giri. Bagi orang Jawa, kata Ki Rekso Jiwo, nyadran tidak sekedar tradisi namun sudah merupakan kewajiban.

Tradisi dan budaya Jawa ini diharapkan akan tetap lestari sehingga perlu diajarkan kepada kalangan generasi muda. "Ziarah ke makam leluhur akan mengingatkan kita pada Sangkan Paraning Dumadi, atau asal usul manusia. Kami mengingat kematian agar bisa mengubah perilaku agar lebih baik," kata dia.

Di Dusun Wonogiri Kidul ini ada sekitar 20 KK penganut kepercayaan urip sejati. Setiap tahun mereka menggelar prosesi nyadran ke petilasan Sunan Giri. Mereka juga menggelar kirab tumpeng keliling dusun dan pentas wayang kulit. [suaramerdeka]


Piwulang asmaradana tumrap kanoman

Asmaradana tegese tresna, rasa tresna marang wong liya, yaiku katresnane priya marang wanita.
Sawijining trap uripe manungsa, mangsa nalika wong wus ketaman asmara marang wong liya, yaiku udakara umur las-lasan nganti rong puluhan taun.

Mangkono pangucape I Wayan Sukarma, dhosen Pascasarjana Universitas Hindhu Indonesia, nalika medhar andharan ing UNS Solo, sawetara wektu kapungkur.

“Upamane jroning budaya Jawa, dipratelakake witing tresna jalaran saka kulina. Tegese jroning pasrawungane wong lanang lan wong wadon kang maune ora nggagas katresnan, nanging saya suwe bisa nuwuhake rasa tresna jalaran kulina. Saben dina weruh, saben dina srawung, saya suwe rasane gathuk,” ujare.

Ya kaya mangkono iku tresna, kang dadi irah-irahan langgeng jroning uripe manungsa kang ana ing dhaerah ngendi wae lan jaman apa wae. Akeh wong kang nganggep manawa katresnan iku prastawa kang wigati saka telung prakara kang dianggep paling wigati jroning urip iki, yaiku kelairan, jejodhowan lan lelayu.

Miturut Sukarma, wong kang lagi nandang asmara bisa nggugah semangat uripe, nanging uga bisa ndadekake buneg ing ati lan pikirane, nganti tega bela pati jalaran cabar ing asmara. Mula, akeh wong kang ngajab asmara iku diarahake supaya selaras karo tata susila lan agama, saengga bisa nuwuhake kabecikan, kawilujengan, kurmatan, kamulyan lan kabahagyan. Kosok walike, wong kang dhemen dolanan katresnan bakale nuwuhake dredah lan prakara ala jroning masarakat. Mulane diajab kabeh wong bisa nglakoni mangsa asmaradana kanthi trep lan selaras.

Kerep ngalamun

Lakuning urip kang kaya mangkono iku uga diarani mangsa kanoman, antarane nglimputi mangsa pueral, negatif lan puber (Sujanto, 1980:205). Nalika mangsa pueral, bocah lanang wiwit misah utawa ngadoh saka bocah wadon. Bocah lanang nalika nyawang bocah wadon rasane dadi gila, lan bocah wadon nganggep bocah lanang kakeyan omong nanging ora tau ana kasunyatane.

Ngancik mangsa negatif, bocah duweni sikep sarwa wegah nampa apa-apa kang ditawakake marang dheweke, sarwa ora teteg lan ora manteb, ora mesthi, ora seneng thok, lan ora setuju, malah kerep ngalamun lan sedhih tanpa sebab sing cetha. Kadhang kala ya ngalamune tekan ngendi-endi lan kaya-kaya uripe ora sigrak maneh.

“Mangsa puber dadi bakune saka mangsa kanoman iki, kang ditandhani ngrembakane lan owah-owahane perangan awak tartamtu kang nyethakake ciri mligine sarta dadi ukuran kanggo mbedakake bocah lanang lan wadon. Luwih adoh maneh, dijlentrehake manawa mangsa kanoman iki, bocah bakal ngalami owah-owahan lan pangrembaka kang cepet bab seksualitas, fantasi, emosi, karep, kaendahan, lan agama utawa kayakinan,” tandhese. - Oleh : Damar Sri Prakoso [solopos]


Riwayat Orang-orang Sakti ...

Jelang Ramadhan, mumet oleh keadaan di Mayapada akhirnya Gareng berhenti mengurus partai. Dia milih jadi guru. Namun sulung ponokawan itu ndak ngajar di bangku-bangku sekolah. Gareng, alias Cakrawangsa, memilih ngajar di ruang-ruang terbuka seperti di bawah pohon di pantai-pantai. 

Murid-muridnya seusia Taman Kanak-kanak hingga SD duduk menggelar tikar. Sekilas gaya Gareng mengingatkan kita pada Mahatma Gandhi yang mengajar rakyat India di pesisir, di kampung-kampung dan di mana saja kaum jelata berada, membangkitkan gerakan Swadesi atau katakanlah tentang kemandirian bangsa.

"Ini terjadi di tahun 1200-an," kata Gareng serius di depan murid-murid anak kaum nelayan. "Di masa itu, tepatnya 1258, kota Baghdad yang sudah lima abadan menjadi pusat peradaban Islam di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah keok. Mereka takluk pada tentara Tartar dari Mongolia. Kepemimpinan agama di Timur Tengah beralih ke kaum sufi. Bersamaan itu para saudagar Islam mengalihkan perhatiannya pada Asia Selatan, Asia Timur dan Asia Tenggara."
"Ya terus kalau gitu kenapa?" salah satu muridnya menyela disambung celetukan murid-murid lainnya. 
"Langsung-langsung sajalah Pak Guru Gareng..."
"To the point sajalah....Kita di sini sudah haus hiburan..." kata anak nelayan yang keminggris...

Riwayat Orang-orang Sakti
Gareng meminta seluruh muridnya yang melingkar di pasir pantai dekat sampan itu bersabar. Lanjutnya, "Gabungan para sufi dan saudagar yang mengarahkan perhatiannya ke Asia Tenggara itulah yang akhirnya memunculkan para wali di Tanah Jawa..."
"Contohnya? Contohnya? Kelamaan nih..." para murid kembali geregetan. Mereka protes sambil melakukan kesibukan sendiri-sendiri. Ada di antaranya yang protes sambil menggambar di atas pasir wajah Ketua DPR Pak Marzuki Alie. Ada pula yang sembari membuat patung-patungan pasir laut dengan sosok Ketua Umum Partai Demokrtat Anas Urbaningrum.
Gareng menelan ludah, meneruskan, "Contohnya ya wali pertama Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang juga dikenal sebagai Syekh Maghribi alias Sunan Gresik itu. Beliau ini menyebarkan agama dengan cara..."
"Langsung soal kesaktiannya saja, Pak Guru...Kami semua sudah haus hiburan," siswa-siswi kembali protes. "Kami nggak punya uang beli komik-komik silat. Kami kerja bantu orangtua. Kami nggak punya waktu denger cerita-cerita dunia persilatan dari radio...Tapi kami tetap haus hiburan..."
Murid yang lain bengak-bengok, "Masa' cerita wali kalah ma cerita wayang. Di wayang sakti-sakti tuh...Prabu Kresna sakti. Gatutkaca sakti. Sengkuni saja bisa menurunkan hujan cuma dengan mengibaskan ikat kepalanya ke tanah...hayooo..."
Gareng kembali menelan ludah. Maksud hati ingin mengajarkan bagaimana para wali zaman dahulu menyembah Tuhan. Apa daya para murid lebih tertarik pada kesaktian dan mitos-mitos tentang para wali. 
"Baiklah, Anak-anak," kata Gareng setelah beberapa lama sepi kecuali suara burung-burung camar yang berseliweran. "Kesaktian Sunan Gresik adalah bisa menyembuhkan penyakit apa saja. Bahkan beliau mampu mendatangkan hujan. Tahu enggak? Ketika itu ada perawan akan dibunuh. Perawan malang ini dijadikan tumbal untuk mendatangkan hujan saat kemarau panjang. Sunan Gresik mengambil alih. Dia berdoa agar hujan turun. Maka ketika algojo hendak memenggal kepala gadis tumbal, tiba-tiba bressssss.... hujan turun, pemenggalan pun batal..."
Seluruh murid bertepuk tangan.
***
Ternyata yang haus hiburan ndak cuma para murid di sepanjang pesisir. Di persawahan dan pucuk-pucuk gunung, seluruh anak-anak juga sangat damba hiburan. Maka cerita Gareng soal para wali yang sedianya tentang bagaimana mereka khusyu' menghamba Tuhan, beralih menjadi cerita-cerita tentang sulapan dan kedigdayaan.
Para murid sangat senang mendengarkan kesaktian Sunan Kalijaga yang bisa menghidupkan kembali ayam tukung, yaitu ayam panggang yang telah hilang brutunya. Bahkan ikan gurame yang tinggal tulangnya saja, karena habis disantap, bisa dihidupkan megal-megol lagi oleh wali mantan Brandal Lokajaya itu. 
Hampir saja Sunan Ampel akan dibunuh oleh Lembupeteng yang mengendap-endap menghunus pedang dari belakang. Mendadak Lembupeteng gemetar dengkulnya mau coplok. Tak kuasa ia membunuh sang sunan. Kepada tentara Majapahit Sunan Giri melemparkan kalam, alat untuk menulis. Bumi gonjang-ganjing seketika kalam berubah menjadi keris Kalamunyeng. Kalamunyeng membelah diri menjadi ribuan Kalamunyeng yang bergerak sendiri memorak-porandakan para serdadu tersebut. 
Plok plok plok....
Para murid bertepuk tangan sampai gemuruhnya sundul ke langit... Murid puas, tapi tak demikian dengan gurunya. Gareng pun murung.
"Di partai aku kecewa. Di pantai aku pun kecewa," Gareng garuk-garuk kepala. "Maksud hati ingin menjelaskan bagaimana para wali dulu beribadah, eh ternyata murid-murid lebih menyuruh aku menjelaskan soal sulapan-sulapan para wali..."

***
Sebenarnya dulu sebelum menjadi pengurus partai, Gareng juga telah menjadi guru. Suami Dewi Sariwati ini mengajar wayang. Tapi tuntutan para murid juga persis seperti sekarang. Mereka lebih ingin Gareng menjelaskan kesaktian para tokoh. Para murid berpulangan ketika Gareng terlalu panjang dan lebar ngomong soal kebijakan-kebijakan para tokoh.
Misalnya, Gareng membahas soal mengapa Resi Bisma dan Resi Dorna memihak Kurawa dalam perang Baratayuda. Padahal kedua tokoh itu mahfum banget bahwa Pandawa lebih benar ketimbang Kurawa. Bisma sebagai leluhur Pandawa dan Kurawa paham betul Oooo...betapa Pandawa lebih berhak atas tahta kerajaan Astina. Dorna sebagai guru Pandawa dan Kurawa, titen dan mengalami betul lagak lagon dan lageyan Kurawa. Pandawa lebih rajin dan berbakti kepada mursid alias guru dibandingkan Duryudana dan 99 adiknya di Kurawa. 
Kecamuk perang batin yang terjadi dalam diri Bisma dan Dorna dikisahkan oleh Gareng dengan sungguh-sungguh. Mulutnya terus berkomat-kamit. Sampai akhirnya Gareng sadar bahwa mulutnya sedang mangap-mingkem seperti orang gila tanpa pendengar. Seluruh muridnya satu per satu telah pergi meninggalkan Gareng seorang diri di bawah pohon mangga, di belakang rumah pak lurah. 

***
Konon beda manusia dan keledai itu...Keledai tak akan terperosok kedua kali pada lubang yang sama. Manusia ndak gitu. Manusia selalu ingin memperbaiki siasat lalu mencoba lagi segala lubang yang pernah memerosokkan hidupnya.
Setelah gagal mengajar tentang kehidupan sejati wali, lantaran murid lebih tertarik pada kesaktian wali, Gareng kembali mengajar soal wayang. Pilihannya jatuh pada Prabu Salya, Raja Mandaraka, mertua Prabu Duryudana sang Raja Astina. 
Gareng ingin menerangkan kepada peserta didik betapa pentingnya ketegasan dalam hidup. Partai-partai sekarang menjadi kayak gini lantaran tokoh-tokohnya tak tegas dalam pilihan hidup, seperti Salya. Salya selalu mandek-mangu mandek-mangu antara membela Kurawa atau Pandawa. Dewi Banuwati, anaknya, dipersunting Duryudana. Namun Salya pun punya hubungan darah dengan Pandawa. Nakula-Sadewa adalah keponakan kandungnya karena Salya adalah kakak Dewi Madrim, ibu dari si kembar di Pandawa itu. 
Suatu hari datang utusan Kurawa yang entah karena apa disangka oleh Salya sebagai utusan Pandawa. Caraka alias utusan itu mengundang Salya datang ke suatu perkemahan. Salya pun berangkat. 
Cerita dilanjutkan oleh Gareng dengan siasat baru agar murid-murid tertarik. "Banyak makanan dan game di tempat itu bagai layaknya Istana Anak-anak ...Sangking asyiknya main game melalui internet...Prabu Salya lama-lama terlena...Ketika itulah Prabu Duryudana datang meminta Prabu Salya berpihak ke Kurawa kelak saat pecah perang Baratayuda. Tanpa pikir panjang, Prabu Salya spontan menyanggupi!"
Murid-murid yang semula tertarik akan kisah game tampak kembali jemu. Mereka bertanya-tanya, "Kesaktian Prabu Salya itu apa? Karena menurut bapak saya, 2014 hanya orang sakti yang pantas jadi presiden..."
"Pulang yuuuuuuk mareeee..." para murid kompak menghambur meninggalkan Gareng. [sujiwotejo.com]

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons