Sri Gayatri Kedanan Sri Kandi

BAPAKKU Sayang, siapa ngomong gudangnya pemusik cuma Bandung dan Jogja. Dianggepnya Surabaya hanya kaya nyamuk dan bonek. Salah. Selain gudangnya triliunan duit...Budi Sampoerna itu wong Suroboyo lho...Surabaya juga lumbunge pemusik. Salah satunya Leo Kristi yang awal-awalnya pernah sa' grup ambek Gombloh di Band Lemon Tree's. Nah, di antara penyanyi Leo Kristi ada yang namanya Gayatri.

Jadi, Bapakku Sayang, Gayatri di sini belum karuan Gayatri yang Sampeyan karepno. Bisa saja Sampeyan mikir Gayatri di sini perempuan yang pipinya mirip Ria Irawan. Padahal pikiran saya ke Gayatri-nya Mas Leo. Atau Sampeyan nyangka Gayatri di sini perempuan ceplas-ceplos, abang ngomong abang, ijo ngomong ijo, khas Suroboyo, tapi aksennya Makassar. Pakai ''lha'' gaya Jawa tapi juga pakai ''to'' gaya Bugis. Sementara Sampeyan-Sampeyan yang lain ngira Gayatri di sini itu Gayatri sing modis dan senengane megal-megol.

Oh, Bapakku Sayang, begitu banyak perempuan cantik bernama Gayatri selain Gayatri yang Sampeyan tuding dan Gayatri-nya Leo Kristi. Apalagi sekarang setelah banyak peristiwa penculikan karena pergaulan facebook. Orang-orang tua wanti-wanti agar anak-anak gadisnya tidak pasang nama asli di Mayapada alias dunia maya. Aneh bin ajaib, satu dua ABG mulai pakai nama samaran yang sama: Gayatri. Tiba-tiba ini berdampak sistemik. Di facebook seluruh perempuan lantas pakai nama Gayatri.

***

Gareng, Petruk, dan Bagong rembukan serius nanggapi banyaknya perempuan digondol dan diewer-ewer wong lanang gara-gara facebook. Rembukan jadi berantakan tanpa penengah. Maklum, Semar yang biasa jadi moderator bagi anak-anaknya sudah moksa bersama kepergian Gus Dur. Gareng, panakawan sulung, jadi ekstrem. Anak-anak perawannya dilarang mblakrak main facebook. Akibatnya mereka semua stres dan masuk rumah sakit jiwa di Lawang.

Waktu rembukan itu Bagong baru cekcok dengan istrinya, Dewi Bagnawati. Yok opo ndak antem-anteman, Bagnawati entek ngamek membela Demokrat dan PKB, Bagong mbelani PDI-P, Golkar, PKS, Hanura, dan Gerindra. ''Jangan sama-samakan facebook dengan kaum istri," kata Bagong emosional ke Gareng yang juga baru cekcok dengan istrinya, Dewi Sariwati. ''Facebook berbeda dibanding istri. Facebook itu masih ada sisi positif-positifnya."

Petruk tersinggung. Masa' si bungsu nggebyah uyah menyamaratakan kaum istri semuanya negatif. Akal sehat Bagong wis mlotrok. Buktinya, istri Petruk masih punya sisi positif lho. Misalnya, Dewi Undanawati, istrinya, masih curiga ketika Pak Antasari divonis bersalah.

''Berarti istriku masih ada positif-positifnya. Dia masih pengin tahu siapa pembunuh Nasrudin Zulkarnaen sebenarnya. Dia masih terus bertanya kenapa kok Antasari langsung diciduk menjelang Antasari akan periksa morat-maritnya penyelenggaraan pemilu. Berarti otak istriku masih jalan. Masih positif," kata Petruk.

Petruk lantas mengambil jalan tengah soal facebook. Bagong membebaskan anak-anaknya main facebook. Akibatnya seluruh anak gadisnya hilang lebih misterius ketimbang penerima saluran dana Century. Penerima dana Century yang diduga menjadi cukong calon presiden dan wakil presiden tertentu pada pemilu lalu kan nama dan alamatnya ada. Pas dicek ternyata RT/RW setempat bingung thingak-thinguk karena orang itu ndak ada. Anak-anaknya Bagong yang diculik pemain facebook itu sekarang nama dan alamatnya saja ndak ketahuan. Hantu keramas dan suster ngesot saja masih ketahuan ada di mana.

Jalan tengah Petruk: anak-anaknya dibebaskan main facebook tapi dengan syarat, tidak boleh memasang foto asli. Mereka ng-upload foto Gareng atau Bagong. Waduh!! Anak-anak Petruk kemudian mengeluh. Ternyata setelah memasang foto Pak De dan Pak Lik mereka itu, mereka kehilangan banyak sekali teman di facebook. Ndak ada yang nge-add. Syarat diubah oleh Petruk. Bagaimana kalau pasang foto sendiri tapi jangan yang pas dalam keadaan cantik atau pas seksi.

Waduh!! Ini juga problem. Anak-anak Petruk itu cantik-cantik bahkan ketika pas ndak cantik saja masih cantik. Lencir dan langsing pula. Maklum bapaknya tinggi, hidungnya mancung, dan murah senyum. Undanawati, ibunya, juga tak kalah dengan manise Gayatri. Petruk tak kurang akal. Anak-anaknya disuruh menatap lumpur Lapindo lalu ekspresinya dipotret. Mereka langsung tampak jelek.

Hari lain mereka dibawa Petruk keliling Jawa Timur. ABG-ABG itu disuruh menyaksikan banjir. Pas itu wajah mereka dijepret. Fotonya tampak jelek. Terakhir Petruk membawa kerbau yang pernah dipakai buat demo di Jakarta. Anak-anaknya dia suruh menerawang kerbau itu lalu diklik kamera. Hasilnya luar biasa. Jelek banget jadinya anak-anak Petruk.

Foto-foto jelek itulah yang dipasang di facebook anak-anak Petruk. Mereka akhirnya ngambek juga karena tetap saja kayak waktu mereka pakai foto Bagong dan Gareng. Mereka tetap kehilangan banyak sahabat di facebook. Banyak cowok-cowok yang me-remove mereka. Akhirnya jalan tengah tercapai. Mereka boleh mengunggah foto-foto asli yang cantik-cantik. Tapi harus pakai nama samaran. Mereka kompak memakai nama Gayatri dengan berbagai variasinya.

Inilah yang kemudian berdampak sistemik. Seluruh perempuan di facebook pakai vanasi nama Gayatri. Ada yang wajahnya seperti Julia Perez. Tapi namanya Gayatri Srihandini. Ada yang mirip Andi Soraya, tapi namanya Hayat Tree. ''Pohon kehidupan alias Kalpataru'' begitu statusnya dalam facebook. Seorang gadis di Ngaglik, Surabaya, yang ndak bisa nyanyi sama sekali malah menamakan diri Gaya Trie Utami.

Wah, opo tumon. Jusuf Kalla dan George Soros boleh bilang kasus Century tidak berdampak sistemik. Tapi, Bapakku Sayang, kasus Gayatri betul-betul berdampak sistemik.

***

Jangan dikira cuma ludruk dan ketoprak yang punya lakon-lakon tentang wong wedok edan. Misalnya Suminten Edan yang berlatar budaya Ponorogo. Di wayang juga ada lakon perempuan sinting. Di antaranya Srikandi Edan. Cuma, edannya Srikandi bukan karena celengannya hilang sampai miliaran. Putri kedua Prabu Drupada dari Kerajaan Cempala alias Pancala ini menjadi gila karena marah. Srikandi, siswi panahan dari Arjuna, marah-marah terus lantaran kok tambah banyak orang gila yang mengaku waras. Mereka malah tak sedikit yang menjadi pejabat negara. Celakanya, masyarakat sendiri juga tidak mengakui bahwa para pejabat itu jan-jane edan. Masyakarat malah mendakwa yang edan adalah Srikandi.Waduh!!!

Tekanan batin itulah yang pada akhirnya membuat Srikandi miring. Ia bukan saja berpakaian mirip laki-laki, didandani oleh sekjen para dewa, Batara Narada. Namanya berubah jadi Bambang Kandihawa. Suatu hari Srikandi malah bertukar kelamin dengan lelaki sakti bernama Begawan Amintuna.

Lakon inilah yang mengilhami pemuda dari Benowo dalam bermain facebook. Dia pengagum Begawan Amintuna. Dia memasang foto dirinya dengan foto perempuan. Nama aslinya, Sri Gandos Waskito, diubahnya menjadi Sri Kandi.

Oooo...Kodrating Jawoto gak keno diduwo...

Seluruh Gayatri kemudian hengkang dari facebook Srikandi, kecuali satu Gayatri. Gayatri yang satu ini tetap yakin bahwa Srikandi tersebut adalah lelaki yang diimpi-impikan sepanjang hayatnya. Bayangan Gayatri yang satu ini, hanya Srikandi, lelaki yang bisa memahami perasaan wanita, yang akan bisa menuntaskan problem hidupnya. Satu jam saja Gayatri tidak di-wall maupun di-chat oleh Srikandi, Gayatri akan kelimpungan.

Dan kalau sudah kelimpungan, Gayatri akan melempar-lemparkan telur, buah dan sayur-mayur. Dia akan ambil cat. Dia corat-coret dinding-dinding kota. Capek mencorat-coret, dia akan menari-nari megal-megol. Kadang goyang-goyangnya itu dilakukan di atas truk.

Bapakku Sayang, ketika aparat keamanan mau menangkapnya karena menganggap Gayatri gila dan mengacau keamanan, Gayatri sempat nge-chat Srikandi.

''Aku tahu kamu laki-laki to, kamu pemimpin to, meski penampilanmu seperti perempuan. Setidaknya seperti banci. Lha, tolonglah aku. Kamu tanda tanganlah kasih instruksi agar celenganku kembali. Kalau kamu takut tanda tangan, lha minimal kamu berani bilang ke masyarakat, matanya suruh lihat, bahwa di zaman edan seperti ini, yang edan sebenarnya bukan Gayatri to. Jadi begitu, Bapakku Sayang..." [jawapos]

maztrie™
Creative Commons LicenseJustify Full

Obah Owah Sultan

SUKA tidak suka, ternyata kawula alit hampir tiap detik berhadapan dengan tontonan yang ger-geran, ramai, tapi memuakkan. Tontonan konyol. Tontonan politik, namanya. Sekaligus, hampir tiap menit kawula alit disuguhi play of power. Drama kekuasaan, yang obah owah. Aktor-aktornya, para pemimpin (gembong). Sutradaranya, orang yang haus naluri. Begitulah inti gagasan Geertz dan Turner tentang life of stage, dalam beberapa buku yang saya baca.

Lakon-lakon Sumantri Ngenger, Damarwulan Ngarit, Jaka Tingkir Suwita, di depan mata kita lagi. Polesan-polesan kisah aneh, sulit terhindarkan. Figur-figur fiktif itu sedang bingung mengejar makna. Mereka, dalam kupasan Geertz sedang menangis karena buta proses the political of meaning. Paling tidak, dengan harap-harap cemas, kawula alit yang tengah mempertaruhkan identitas itu, kian hari semakin tidak karuan.

Tampaknya, jangka tanah Jawa, bahwa kawula alit akan berhadapan dengan ungkapan (dhandhanggula): semut ireng ngendhog jroning geni, manuk merak memitran lan baya, keyong sakenong matane, tikuse padha ngidung, kucing gering ingkang nunggoni, kodhok nawu segara, antuk bantheng sewu, si precil kang padha njaga, semut ngangkrang angrangsang ardi Merapi, wit ranti awoh dlima — segera akan terwujud. Andaikata kawula alit itu identik dengan semut ireng, jelas sedang dalam kondisi bahaya. Biar pun bisa bertelur, semut itu akan berhadapan dengan teka-teki panas, tidak jelas.

Kawula alit, tampaknya cukup jeli. Andaikata ada burung merak yang memitran dengan buaya, tidak mudah terpancing. Deklarasi apa pun, selalu disaring, dengan membuka mata selebar-lebarnya, seperti keyong sakenong matane.

Kawula Alit Yogya
Kawula Yogyakarta, masih tetap setya tuhu dengan kharisma. Kharisma, oleh EB Tylor dalam tulisannya The Primitif Culture dinyatakan sebagai senjata integrasi sosial. Pribadi Sultan pun masih terasa demikian. Pada era kini, kharisma dapat diartikan wong linuwih, bijak, agung binathara, berbudi bawa leksana, yang masih sulit ditemukan di luar beteng. Biarpun Sultan sering menyatakan diri bukan sebagai ‘’wong agung’’, namun kawula tetap menyebut demikian. Apalagi pilihan kultural religius untuk tidak melakukan poligami, sungguh menambah nilai plus. Pemikiran luhur untuk senantiasa menjadi kaca benggala, tampaknya yang masih menjadi magnit kawula alit. Biarpun kawula alit merasa adoh ratu cedhak watu, namun hatinya masih lekat (kumanthil-kanthil) dalam diri sang raja. Raja tetap dijadikan pandam (juru penerang), pandom (rujukan), panduming dumadi (yang mengayomi).


Mungkin bagi the others, akan merasakan tek-teki ketika ada abdi dalem keraton yang hanya digaji minim, mau sedheku marikelu seminggu sekali. Pepundhen saya KRT Parwoko, KRT Slamet K, KRT Kawindrasusila, dan masih banyak lagi, tetap merasa harus mengayom (dhedhepe) pada Sultan, biarpun situasi pahit. Alasan spiritualitas tampaknya yang paling diutamakan oleh para abdi dalem. Kebanggaan batiniah yang ditemukan. Apalagi, Ngarsa Dalem memang tampak memegang teguh pesan Ki Ageng Suryamentaram: dadiya godhong.


Ki Ageng yang setelah lelana brata, banyak menguasai ilmu jiwa Jawa, cukup mendasar. Kata dia, dalam hidup manusia penuh dengan ìcatatanî, antara lain, bila sedang menjadi pemimpin jadilah daun. Daun apa saja, memang ada unsur mengayomi. Daun bisa hamangku-hangrengkuh-hamengkoni atas sengatan matahari, yang menggores riak-riak embun di atas daun. Inilah konsepsi kepemimpinan tanu hita, artinya daun yang bermanfaat.


Tanu berarti daun yang mampu menciptakan suasana rimbun, ayom-ayem. Hita artinya ajaran lungit. Bukankah sepanjang sejarah, ketika Yogyakarta diganyang penjajah tetap tegar. Sang raja hanya bersabda, mengko sasuwene wong nggaru-luku, kebo bule bakal mulih menyang kandhange. Ternyata, Baron Sekender yang secara mistis pernah jatuh terkapar, ketika terbang di atas kraton Yogyakarta ñ esensinya, kebo bule (Baron Sekender) dengan Belanda lainnya angkat pantat dari kota gudeg, kembali ke negaranya. Bahkan, sabda raja yang mirip suasana daun: ana ratu cebol bakal mrentah mung saumure jagung. Ternyata, ini metafor bangsa Jepang, yang hanya sebentar menduduki tanah Jawa. Metafor ini sebagai wujud titis tetes tetesing sabda, yang membangun kewibawaan raja. Biarpun aspek spekulasi ada, hal itu sering memupuk kerimbunan daun-daun.


Metafor
Metafor adalah mitos. Daun dan ungkapan sakti pun mitos. Daun adalah fenomena yang berguna sepanjang masa. Roland Barthes (1983:151) meneguhkan, mitos adalah tipe wicara (omongan). Tipe ini bukan sembarang. Daun itu suatu pilihan mitos. Ketika masih daun muda (pupus), ulat pun mau makan. Jika sudah lepas, daun pula yang memasak sari-sari makanan untuk seluruh pohon. Maka jadilah daun, berarti raja masih diyakini mampu memberi dana dan anggeganjar saben dina. Bila daun itu sudah tua, belum jatuh, kalau belum ada kekuatan adikodrati, lewat hembusan angin menjatuhkannya. Biarpun nasib daun di tanah orang menyebut sampah, sesungguhnya tetap ada manfaat, sebagai pupuk. Bahkan, bagi tangan terampil, ada yang mencoba mengkreasi daun-daun kering menjadi kerajinan imajinatif.


Hidup sebagai daun, adalah suatu getaran spiritual Sultan, yang menciptakan kawula selalu melakukan labuh labet. Meskipun wujud labuh labet tidak harus seperti pada era praja Ngamarta, asok glondhong miwah pengarem-arem, masih ada nuansa pribadi linuwih yang terbangun dalam sengkalan berdirinya kraton: ‘’dwi naga rasa tunggal’’. Nuansa hakiki mitos ‘’sari rasa satunggal’’, artinya menyatukan pribadi Jawa yang benar-benar ‘’kajawi’’, terlihat dari watak saiyeg saeka praya/kapti, menegakkan keistimewaan. Jika outsider, orang luar, menyatakan ‘’sari rasa’’ itu mulai pudar atau luntur, sesungguhnya bagi kawula alit Yogyakarta unexplained. Tidak perlu dijelaskan lagi.


Dennys Lombard (1990) dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya, tengah terusik dengan keraguannya sendiri, ketika menyimak lakon wayang: Petruk Dadi Ratu. Saya yang juga menyimpan kaset VCD lakon itu, sontak harus menyetel. Ternyata, bantahan dia bahwa akan terjadi perubahan orde ketika rakyat kecil jadi pejabat tinggi, dapat saya amini. Mengapa? Petruk dapat menjadi raja di kerajaan Sonyawibawa bergelar prabu Belgeduwelbeh Thongthongsot, adalah dunia mungkin. Ini pilihan mitos yang kurang terjiwai daun. Kawula alit Yogyakarta, tampaknya belum (tidak?) memikirkan Petruk yang muncul niat ‘’jahat’’, memegang Kalimasada untuk menjadi raja.


Petruk jadi raja, munculah gonjang-ganjing. Negara Ngamarta tak harmoni. Dewa-dewa tercengang. Simpulan Lombard, Petruk pun sadar, mawas diri, dan minta maaf atas kejadian yang oleh orang Jawa dikatakan sebagai lancang. Lancang pincang. Buktinya, Petruk belum mampu menjadi daun. Dia justru dianggap nggege mangsa, sekaligus the aneh, sebagaimana tidak dibenarkan dalam Serat Surya Raja, yang tersimpan di keraton Yogyakarta. Dari karya besar ini, Sultan masih dielu-elukan kawula alit sebagai figur yang mampu merajut nation building, dan bukan nation bleeding. Pamor beliau masih sebagai teja sulaksana, yang selalu nawung kridha, artinya memahami rahasia kawula alit dengan ketajaman batin. Percaya, tidak? [suaramerdeka]
maztrie™
Creative Commons License

Sang Prabu Dipadano Kebo

PRABU Duryudana dipada'no, disama-samakan, dengan kebo alias kerbau. Yang bikin persamaan para demonstran. Jan-jane tukang bikin persamaan ya guru-guru matematika. Mereka tidak suka pertidaksamaan. Tapi, walau tak ikut bengak-bengok di jalan, kaum pengajar matematika itu tampil sebagai pembela. ''Lho, dalam semangat persatuan, sebaiknya cari perbedaan atau persamaan? Persamaan kan?" kata salah seorang wakil mereka.

''Contohnya nduk Suroboyo saja," lanjutnya, ''Buat apa kita cari-cari perbedaan orang-orang Benowo dan orang-orang Kandangan, Bongkaran, Pabean, Menanggal, dan lain-lain. Justru kita harus nggoleki persamaannya."

''Itu tok ndak cukup. Kita juga harus nyari persamaan manusia ambek unsur-unsur alam. Ya, tumbuh-tumbuhan. Ya, hewan. Ingat, konsep persatuan kita bukan cuma kesatuan antar-manusia. Kita juga peduli pada kemanunggalan menungso ambek alam. Masyarakat kaprahnya cuma sanggup melihat perbedaan antara kerbau dan sang Prabu. Sekarang, lihat, para pendemo malah telaten dan mampu menemukan persamaannya. Enak to? Manteb to?"

Di singgasananya, Prabu Duryudana semula akan manggut-manggut. Ndak sido, karena si kembar dan si gagap Citrakso-Citraksi bisik-bisik di kiri-kanan telinga sang Prabu. Mereka mengingatkan, awas lho, kebo itu gemuk dan dungu. Juga penurut. Cek saja nanti pas Paman Sam berkunjung kangen-kangenan Maret nanti. Bawakan kerbau di bekas sekolahnya di Menteng. Paman Sam bilang ''ngidul'', pasti kerbau itu ke selatan. Obama, eh Paman Sam bilang ''ngalor'', pasti kerbau berubah kiblat jadi ke utara.

We ladalah! Tokoh nomor satu Astina itu bingung. Harus koyok opo reaksinya sebagai raja menanggapi soal kebo. Waduh dewaaaaa....dewaaaaa...Diam saja nanti dikira mayat. Misuh-misuh nanti dikira Ruhut Sitompul. Padahal, meski pakai anting seperti umumnya para raja, Duryudana tidak punya kuncir seperti Ruhut.

Sepilah suasana sidang di balairung. Nyenyet. Sampai-sampai di luar balairung pun keadaan turut menghening... tan ono sabawaning walang awisik, ron-ronan datan mobah, samirono datan lumampah...Bahkan tak ada satu pun gemerisik belalang, daun-daun tak bergerak, angin pun mandek.

Patih Sengkuni memecah kebekuan yang sudah berlangsung sejak senja hingga nyaris beduk tengah malam. Ia batuk-batuk dan berdehem. Hadirin yang semula tunduk pada menoleh. ''Menanggapai demonstrasi kebo, bagaimana kalau reaksi Sampeyan, Prabu Duryudana, ketawa-ketawa saja," bujuknya seraya cengegesan seperti adatnya.

Duryudana alias Jaka Pitana, ya sang Destarastratmaja mak jlek memandang Patih Sengkuni. Lalu Jaka Pitana nyureng-nyureng. Bagaimana kedua alisnya tak bersatu? Ngguya-ngguyu haha-hehe kan lambang suka-cita? Nanti mereka dikira hepi-hepi karena diem-diem naik gaji dan remunerasi bersama pejabat negara lainnya. Padahal, rakyat sudah teriak-teriak mbok para penyelenggara negara jangan joget-joget di atas penderitaan mereka.

Atau sebaiknya Prabu Duryudana marah-marah? Tapi ini akan melanggar perpu tentang marah-marah. Dalam peraturan pengganti undang-udang itu disebutkan, pemimpin boleh misuh-misuh tapi tak boleh marah-marah. Pemimpin hanya boleh marah kalau harga-harga kebutuhan pokok sudah turun. Padahal, sekarang, harga-harga justru naik-naik ke puncak gunung. Ya, gula. Ya, beras. Ya, gas. Kecuali kalau perpunya diganti lebih dulu supaya mereka berubah bisa marah-marah. Seperti dulu mereka mengganti perpu lebih dulu agar bisa membantu Bank Senturi.

Gedubrak! Prabu Duryudana nggeblak, jatuh semaput. Sidang dikukut.

***

Kapten Chelsea John Terry tidak sendirian dalam berselingkuh. Arjuna juga punya pacar gelap. Namanya Dewi Banuwati, permaisuri Duryudana alias Prabu Anggendariputro. Bukan saja cantik, putri asal Kerajaan Mandaraka ini juga berkuasa atas laki-laki. Bayangkan, dia hanya bersedia dipinang oleh Raja Astina, Duryudana alias Suyudana, dengan syarat perias pengantin putrinya harus Arjuna. Dirias di kamar tertutup 40 hari 40 malam. Edan, Suyudana setuju!

Kini Suyudana yang pingsan dari ruang sidang sedang diusung ke peraduan. Banuwati yang sedang SMS-an dengan Arjuna sudah tahu. Pasti penyebabnya adalah kebo. Maka begitu Suyudana sudah siuman, sang Dewi yang sudah siap dengan seabrek dongeng tentang kebo, mulai bercerita kepada suaminya. Sebagian info itu diperoleh Banuwati dari panakawan Gareng, Petruk, dan Bagong. Dongeng-dongeng tersebut perlu dituturkan sang Dewi agar suaminya tidak minta macem-macem di malam yang dingin dan kadang mati listrik itu (Mohon dipersori untuk Mas Dahlan Iskan, dirut PLN, ST).

Bener. Pas Suyudana siuman, laki-laki ini langsung ngambung kening istri dan meraba dadanya. Sing digerayangi paham. Sang Dewi cepat nylimur, ''Eh, Cak, tahu ndak, ternyata kebo itu baik lho. Kalau mbajak sawah paling lurus hasilnya. Hasil garis bajakan sapi masih mbliyut-mbliyut. Ini karena kerbau mirip manusia autis, yang punya keterbatasan melakukan berbagai jenis aktivitas, dan kerap dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang di Tanah Air. Padahal orang autis kalau dipupuk bisa melakukan gerak yang sama ratusan kali dengan ritme dan ketelitian yang ajek dan luar biasa. David Beckham salah satu contohnya."

Prabu Destarastratmaja terpana. Tapi dongeng permaisurinya terhenti karena sibuk SMS-an ambek Arjuna. Sang Prabu kembali menggerayangi istrinya di bagian yang lebih ke bawah. Cepat-cepat Dewi Banuwati nylimur lagi.

''Eh, Cak, Sampeyan ngerti? Ternyata kerbau yang tenaganya lebih besar ketimbang sapi juga jauh lebih disiplin. Kelihatannya saja kerbau tidak tebar pesona dan tidak jaim alias jaga image karena badannya sering berlumpur dari hobinya berkubang. Tetapi, bahwa sesungguhnya, kerbau sangat rapi hidupnya. Yaitu, pulang kandang selalu melewati jalur yang rutin mereka lalui saban hari. Buang kotorannya juga tidak di sembarang tempat. Kerbau praktis lebih sering buang kotoran di tempat biasanya dia buang hajat.''Sekali lagi dongeng Dewi Banuwati terhenti karena SMS-an dengan Arjuna. Prabu Duryudana semula terkesima pada kebaikan kebo. Akhirnya tangannya kembali menjadi aktivis. Satu per satu kancing gaun malam istrinya dibukanya. Dewi Banuwati kembali nylimur. ''Eh, Cak, kebo itu bagus kok. Tahu kan? Makhluk yang dikeramatkan di Keraton Kasunanan Surakarta sejak abad ke-17 adalah kerbau. Bukan kuda. Bukan sapi. Kerbaulah yang paling terbukti bisa menjaga kehormatan pusaka Kyai Slamet sampai-sampai kerbau itu sendiri secara turun-temurun dinamai Kyai Slamet dan diarak setiap peringatan tahun baru 1 Suro.

Kerbau pula yang mampu mengantar Nusantara memperoleh penghargaan dari UNESCO belum lama ini. Wayang mereka hormatidan dudukkan sebagai warisan dunia yang harus dilestarikan. Apakah para demonstran itu berpikir bahwa Nusantara tetap bisa memiliki wayang tanpa adanya kulit kerbau? Kulit sapi dan hewan-hewan lain tidak bagus sebagai bahan wayang kulit. Jati diri kebudayaan Nusantara yang suku-sukunya saling bekerja sama juga mengolah tanduk kerbau, terutama kerbau Toraja, sebagai gapit dan cempurit (tulangan dan pegangan) wayang."

***

Dari pengalaman-pengalaman itu kemudian tak satu jeda pun Dewi Banuwati kasih kepada tangan suaminya untuk beraktivitas. Dongengannya tentang kerbau terus nyerocos. Hingga hari menjelang terang tanah dan kokok ayam ketiga.

Putri Prabu Salya dari Mandaraka itu bercerita tentang betapa orang-orang hebat dahulu kala juga menggunakan kebo atau mahesa sebagai namanya. Misalnya Mahesa Wong Ateleng. Ada juga Kebo Marcuet di alas Purwo. Saking saktinya sampai Raja Blambangan itu meresahkan Majapahit.

Apakah nama pemimpin Ekspedisi Pamalayu itu lebah? Tidak. Tapi kerbau. Yaitu Kebo Anabrang. Kalau tidak digdaya, mustahil panglima Kerajaan Singasari itu berhasil menaklukkan seluruh wilayah Melayu termasuk kerajaan Melayu Jambi dan Sriwijaya. Di Singasari itu banyak tokoh bagus-bagus namanya pakai kebo. Jangan cuma terpaku Kebo Ijo yang pandir dan dimanfaatkan oleh Ken Arok. Lihat juga kebo-kebo yang lain. Kebo Giro, nama gending gamelan yang sering ditalu pas mantenan, itu juga enak.

''Sudah bagus Paduka disamakan dengan kebo," bisik Banuwati, "Daripada Paduka disamakan dengan lebah. Tawon itu lempar batu sembunyi tangan. Persis kelakuan siapa pun yang terlibat kasus Bank Senturi. Yang nyengat, yang ngentup, itu dia-dia sendiri. Eh, dia diem saja ketika yang disidang dan disidik-sidik aparat hukum di Jawa Timur seorang murid sekolah di bawah umur...Cak...Caaaaaak..."

Zzzzzzzzz....

Duryudana ketiduran di ranjang. Matahari sudah naik sepenggalah. Di ranjang yang sama, Dewi Banuwati segera mungkur dan melanjutkan SMS-an dengan Ksatria Piningit: Arjuna. [jawapos]
maztrie™
Creative Commons License

Julukan Semar untuk Gus Dur

Tidak terasa, Ahad besok adalah 40 hari wafatnya almaghfurllah KH Abdurrahman Wahid Ad Dakhil alias Gus Dur. Hingga hari ini, ribuan pelayat masih terus berdatangan ke makam beliau di Tebuireng, Jombang. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Juga beberapa tokoh dari luar negeri. Penghormatan juga diberikan tokoh lintas agama.

Semua itu menjadi bukti bahwa Gus Dur adalah tokoh besar, disayang semua kalangan, yang ide-ide dan pemikirannya terus hidup dan berkembang. Almaghfurllah KH Chamim Jazuli (Gus Miek), tokoh sentral semaan Alquran Mantab, menyebut Gus Dur sebagai tokoh langka yang nyeleneh, kaya ide, dan mengabdikan sepenuh hidupnya untuk rakyat. Gus Miek menjuluki Gus Dur sebagai Semar, tokoh pewayangan berbadan tambun, berkulit hitam, perut buncit, dan berkuluk di kepala.

''Gus, panjenenangan kedah dados Semar. Indonesia butuh tokoh yang bisa menjadi pengayom dan melindungi segenap tumpah darah rakyat.'' Begitu pesan Gus Miek berkali-kali setiap bertemu Gus Dur pada 1991-1992.

Saya sempat bertanya kepada Gus Miek, mengapa harus jadi Semar? Kan Gus Dur sudah menjadi ketua umum PB NU yang notabene adalah pemimpin umat yang mengabdikan diri untuk bangsa dan negara? Gus Miek menjawab, ''Gus Dur harus menjadi sesepuh bangsa, guru bangsa, bapak bangsa, pejuang rakyat jelata dan kaum tertindas. Gus Dur itu milik semua orang, bukan hanya warga NU. Karena itu, dia harus menjadi Semar.''

Filosofi Semar

Dari berbagai literatur, Semar digambarkan sebagai lambang dunia nyata, mahadewa di dunia bawah. Batara Guru itu mahadewa di dunia atas, penguasa kosmos. Batara Semar penguasa keos. Batara Guru penuh etiket sopan santun tingkat tinggi, Batara Semar sepenuhnya urakan.

Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik. Seolah-olah dia merupakan simbol penggambaran jagat raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya.

Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembap. Penggambaran itu merupakan simbol suka dan duka. Bentuk badan Semar juga paradoks, seperti perempuan tapi juga mirip lelaki, kombinasi ketegasan dan kelembutan. Semar adalah seorang hamba, rakyat jelata, buruk rupa, miskin, hitam legam.

Namun, di balik wujud lahir tersebut, tersimpan sifat-sifat mulia. Yakni, mengayomi, melayani umat tanpa pamrih, memecahkan masalah-masalah rumit, sabar, bijaksana, serta penuh humor. Semar adalah pengejawantahan ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yakni ''manunggaling kawula-Gusti'' (menyatunya hamba-raja).

Seorang pemimpin seharusnya menganut filsafat Semar. Pemimpin di Indonesia harus memadukan antara atas dan bawah, pemimpin dan yang dipimpin, yang diberi kekuasaan dan yang menjadi sasaran kekuasaan, serta kepentingan hukum negara dan kepentingan objek hukum.

Semar menghormati rakyat jelata lebih dari menghormati para dewa pemimpin itu. Semar tidak pernah mengentuti rakyat, tapi kerjanya membuang kentut ke arah para dewa yang telah salah bekerja menjalankan kewajibannya.

Semar itu hakikatnya di atas, tapi eksistensinya di bawah. Seorang pemimpin adalah sebuah paradoks (Kitab Hastabrata atau Delapan Ajaran Dewa). Dia majikan sekaligus pelayan, kaya tapi tidak terikat kekayaannya, tegas dalam keadilan untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah, namun tetap berkasih sayang.

Ajaran tua tentang kekuasaan politik dimitoskan dalam diri Semar yang paradoks tersebut. Etika kekuasaan itu ada dalam diri tokoh Semar. Dia dewa tua, tapi menjadi hamba. Dia berkuasa, tapi melayani. Dia kasar di kalangan atas, tapi halus di kalangan bawah. Dia kaya raya penguasa semesta, tapi memilih memakan nasi sisa. Dia marah kalau kalangan atas bertindak tidak adil. Dia menyindir dalam bahasa metafora bila yang dilayani berbuat salah.

Tokoh Semar itulah yang mengejawantah ke diri Gus Dur sebagaimana yang diinginkan Gus Miek. Budayawan Dr Sindhunata dalam sebuah seminar di Jogjakarta (Kompas-Online, 1997) juga dengan sangat serius mengasosiasikan tokoh wayang Semar dengan Gus Dur, baik dari sikap-sikap politik maupun fisik.

Menjangkau Masa Depan

Gus Miek memang sejak lama bersahabat dengan Gus Dur, terutama ketika menjelang dan saat berlangsungnya Muktamar NU di Situbondo pada 1984. Bahkan juga dengan almaghfurlah KH Achmad Shiddiq, mantan rais aam PB NU. Saat Munas Ulama NU 1993, tiga tokoh yang juga dikenal sebagai waliyullah itu sering terlibat aktif berdiskusi soal masa depan bangsa.

Pemikiran spektakuler yang mereka hasilkan, antara lain, bentuk negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) sudah final dan tidak bisa diganggu gugat. Indonesia harus utuh menjadi negara kesatuan yang wajib dipertahankan eksistensinya oleh setiap muslim. Hasil ijtihad lainnya yang kemudian diputuskan dalam muktamar ke-27 NU adalah Pancasila sebagai satu-satunya asas, yang diikuti dengan kembalinya NU ke khitah 26.

Karena dianggap sukses memimpin NU pada masa peralihan, dari politik praktis menjadi jam'iyah diniyah, Gus Miek kemudian meminta agar Gus Dur menjadi pengayom bangsa. Kelak, kata Gus Miek, bangsa ini mengalami problem besar yang menyentuh seluruh sendi dan aspek kehidupan. Saat itu, diperlukan tokoh yang mampu membawa bangsa keluar dari kemelut multidimensional.

Diperlukan tokoh yang punya pikiran kritis dan cerdas untuk mencari solusi. Gus Dur dianggap mampu oleh Gus Miek seperti halnya Semar. Itu juga diakui Greg Barton. Pemikiran Gus Dur bisa merambah jalan menuju masa depan. Mungkin, Gus Dur masih baru meletakkan dasar-dasar pemikiran di bidang kenegaraan, demokrasi, HAM, keagamaan, dan sebagainya. Kitalah yang harus meneruskan pikiran-pikiran besar itu.

Namun, ada satu keinginan Gus Miek kepada Gus Dur dan Kiai Shiddiq yang tidak terlaksana. Yakni, agar mereka bertiga menempati makam yang sama di Makam Aulia Desa Tambak, Ploso, Kediri. Namun, Gus Dur akhirnya dimakamkan di Tebuireng, dekat makam ayah dan kakeknya. Allahummagfir lahum warhamhum.

*). Sholihin Hidayat, mantan Pemred Jawa Pos, kini direktur Ko Hin Institute [jawapos]

maztrie™
Creative Commons License

Ngelmu Sumur lan The Latah ing Pakurmatan

ING bebrayan Jawa, ana telung perkara sing perlu diurmati, yaiku: wong tuwa, guru, lan pepundhen (pimpinan). Tetelune wis madhangake jagad Jawa. Wis ngusung wong Jawa seka pepeteng. Wis akeh labuh labete. Yen nganti dilirwakake, tetelune bisa ngelus dhadha, rumangsa kesiya-siya ngenes.
Para priyagung sing ”diwudani” ing ngarepe wong akeh, kiraku luwih lara timbang digebugi nganggo bogem mentah. Saya jaman tinarbuka iki, sajake bab ”bukak-bukakan”, nyodhog kana, ngantem kono, sok lali subasita. Solah bawa muna-muni akeh sing kebablasen. Nganti sok ana sing nranyak. Wani mlothot tembung-tembung sing ngabangke kuping. Sajake wis akeh sing lali jejer kawitane.
Najan saben dina Bakda, wong Jawa wis diwejang nganggo ujung, ngambung dhengkul marang sesepuh lan priyayi luhur, katone isih akeh sing nglirwakake. Pira cacahe, anak sing gelem urmat kanthi unggah-ungguh mlipis, ganep? Pira cacahe siswa/mahasiswa sing (isih) gelem mundhuk-mundhuk kaya kloloden gethuk, ngadhepi guru. Apa isih ana sing (kesdu) laku dhodhok, ngadhep pimpinane?
Siji loro, pancen isih ana sing nun sendika dhawuh. Udanegarane besus. Ning erosi tatakrama sing ketok mata iki, wis kebablasen. Sipat tegel ”ngudang” kanca, semu ngece, lan ngiwi-iwi wis kerep klakon. Ngono iku, jebul underane rembug ya ing kluwarga Jawa. Yen ing kluwarga wae wis dha ninggal susila anoraga, remuk. Saiki terus terang wis akeh sing karo simbok mlolok, marang bapak ndhupak, karo panggedhe gumedhe, karo bulik mendelik, marang simbah ora nggenah. Ateges wong Jawa wis gumingsir laku jangkahe. Wis akeh sing mundhuk-mundhuk ning nggembol watu saplenuk. Katone inggih-inggih, ning ora kepanggih. Sajake wis akeh sing minger keblate, keblinger, lali marang lajering urip.

***
MANUT sabdane Hyang Tunggal, ing lakon wayang Manikmaya, pancen manungsa kuwi kadunungan sipat patang perkara, yaiku: lali, apes, murka, lan rusak. Mula seka iku, ing jagad wayang kulit, Manikmaya (bathara Guru) ginambar tangane papat. Sipat patang bab iki sajake bakal ngembangi uripe wong Jawa, embuh tekan jagad kapan. Wusana, ora jeneng mokal yen wong Jawa akeh laline. Sing ala kuwi nglali, merga kesurung sipat murka lan pengin ngrusak, ora wurung njur apes ta?
Sing kebangeten, ana wong lali marang bibit kawite. Lali yen tau didulang simboke. Lali yen ompole tau dikumbahke. Iku jeneng wis kelepyan marang lantaraning urip. Tundhone sok lali marang Sing Gawe Urip. Beteke keglibeng sipat murka, perkara andum warisan wae, bisa dedreg. Durung sing nggepok dhuwit Negara, regejegan ora uwis-uwis. Kabeh lali marang jatine wong tuwa sing ngukir jiwa raga. Lali marang para bendara, sing wis gedhe labuh labete. Ana sing tegel karo wong tuwa, ngidak-idak, napuk raine priyagung bebasane. Glagat mikul dhuwur mendhem jero, ngurmati kanthi spiritual, tansaya luntur.
Bebasan wong Jawa sok ana sing lali yen tau ngombe banyu sumur kok wani ngidoni sumur, cuh! Dheweke kejaba ora sopan, cumanthaka, lha kok ora wedi yen kuwalat — yen banyu sumur kuwi suci lo. Kejaba yen sumure iku pancen kebak uwuh, tur ana bathange sisan, ya embuh. Iku sumur mati, sing wis suwe ora ditimba. Adate ngganda. Yen manungsa, yaw is mati rasane. Manut ngelmu sumur, tuke banyu mau, aku yakin apik, murni. Ning campuran reged kuwi lo, sing mbebayani. Ora beda karo jagade para luhur, pemimpin jane ya akeh sing sekawit suci. Mung wae, yen wis akeh uwuh, bathang, regedan, ibarate banyu sumur ora ditimba, ora mili —hemm, layak yen sumur iku wis ora dipepundhi.
Jaman lakon Damarwulan Ngarit, uga lumaku ngelmu sumur. Bapake Damarwulan, patih Maudara (Udara), tau mundur anggone dadi patih. Ora merga korupsi anggone lereh wrangka dalem. Ning dheweke urmat marang ratu, Prabu Brawijaya (sing wis murud kasedan jati). Melu urmat lan bela setya raja, dheweke trima leren dadi patih, njur digenti adhine Patih Logender. Dheweke trima mbeningake banyu sumur, kang wis tinimba. Ning dhasar adhine iki rada ngeyel, tau maeka Damarwulan ing jaman perang karo Minakjingga, sumur malik butheg meneh.
Dedreg udreg, apus karma, lan paeka, njalari sumur Majapahit reged. Tegese, anake patih Logender sing jeneng Layang Seta lan Layang Kumitir, diajari gawe katrangan semu. Kon matur gusti ratu Kencanawungu, yen sing mateni Minakjingga dheweke. Krenah lan kemonah iku sejatine ngemu pitenah. Patih Logender lali uga kebrongot murka, pengin muktekake anak (kroni) kanthi dhandhang diunekake kontul. Lhadalah! Katone dheweke urmat marang ratu, ning kebat srengate ngubeg-ubeg sumur, pengin Njongkeng kawibawan.

***
NALIKA aku maca karyane James Siegel kang sesirah Solo in the New Order; Language and Hierarchy in An Indonesian City (1987), satemene prinsip pakurmatan tumrape wong Jawa iku jero banget. Dheweke nggambarake owah-owahan basa Jawa Ngoko dadi krama, minangka ciri pakurmatan kang mirunggan. Ngoko (low Javanese) lan krama (high Javanese), bisa njalari wong kudu kurmat. Jare, ana pembantu sing jeneng Rumi bingung, arep njupukake obat cacing. Nalika ditakoni tamu, Rumi gugup: ”Apa kuwi Rum?” Dheweke njegreg, merga cunthel nggoleki tembung krama tumrap kirik kuwi apa. Yen arep njawab: ”Niki obat cacing kangge kirik,” manut pangrasane ora kurmat marang tamune. Sajake, Rumi pancen durung tepung karo tembung krama segawon, kang luwih urmat.
Manut Siegel, yen ana wong Jawa sing durung ganep tatakramane, isih kasar tembunge, ora ngurmati, diarani ”the latah”. Mula, bab iki uga klebu wong-wong sing wani ngeculake tembung kasar ing ngarepe wong akeh, kayata nalika sidhang ing Pansus Century —klebu ”the latah”. ”The latah”, kadhang adoh seka kurmat, lan sejatine uga ngesotake sing ngucap. Ajining dhiri kang mrucutke tembung, sagedhagan iku bisa mlorot. Yen ana wong ngundhamana kanca, kolega, kanthi brondongan tembung reged, ajining dhiri anjlog. Mangka, ngene iki sok kegawa seka sipat lali lan murka, njur tegel ngundhat-undhat, tanpa kurmat. Kepara mutiara kang dumunung ing blegere wong liya, katon tinja saupamane.
Satemene, manut panalitene John Pemberton kang kaemot ing buku On the Subject of Java (1994), akeh wejangan pakurmatan sing tinemu ing ritual manten. Adicara sungkeman, iku minangka tandha pakurmatan anak lan mantu marang maratuwa, sing bakal menehi dana rasa mulya. Simbol pakurmatan iki, diketok-ketokake marang tamu. Ironise, asring ana mantu sing mengkone wani nungkak krama marang maratuwa. Ana mantu sing degsura, sekecap dha sekecap. Pakulinan ngene iki sok kegawa tekan ngendi-endi, yen nuju ngemban negara.
Ya wis ben, sebab manut Geertz (Fred Inglis, 2000) jagad Jawa iki lagi lumebu ing ”the stages of the world”. Tegese, lagi dha keblebeg donyane sandiwara. Becik ditunggu wae, ben dha ngonclang the latah, ngobog-obog sumur, kanthi ninggal tatasusila. Ning kabeh mau, mbokmenawa drama. Kari manut ”sutradarane”. He he he. Njelehi ta. Ya, sedhela meneh, mbokmenawa bakal ana ”sumur gumuling”, nggegirisi! [suaramerdeka]
maztrie™
Creative Commons License

Ilang Jawane

APA bener wong Jawa iku bakal ilang Jawane? Ilang Jawane tegese ilang sifat-sifat lan kepribadian kejawaane. Yen wis ilang Jawane kaya-kaya ya wis dudu wong Jawa maneh. Banjur wong Jawa iku dadi wong sing kaya apa? Wong Jawa diarani Jawa amarga nduweni sifat lan ciri-ciri tinartu. Upamane: wong Jawa iku basa ibune basa Jawa, kesenian, tradisi lan kabudayane tradisi, kesenian, lan kabudayan Jawa. Lha nek wis ora bisa basa Jawa, ora ngerti tradisi lan kesenian Jawa, ora tepung karo kabudayan Jawa, “gaya hidup”-e wis ora kaya salumrahe wong Jawa, apa ya isih bisa diarani wong Jawa?
Rehne anak-putune wong Jawa, mesthine ya tetep wong Jawa. Sifat-sifat kang tumurun marang anak-putu bisa dibedakake dadi rong werna, yaiku warisan biologis lan warisan sosial utawa kabudayan. Satemene sing bisa diwariske langsung iku ya mung warisan biologis. Rehne turune wong Jawa ya nduweni sifat fisik lan biologis kadideme wong Jawa, upamane: kulite nyawo mateng, rambute ireng lurus, irunge rada pesek, lan liya-liyane. Dene warisan sosial iku warisan sing bisa diwarisi srana sinau utawa liwat sosialisasi. Tanpa sinau utawa srawung karo padha-padha wong Jawa, ya ora bisa basa Jawa, ora tepung karo kesenian Jawa.
Warisan biologis iku wis kunandhut ana gen utawa bibite. Rehne bibite wong Jawa, ya marisi sifat fisik dalah potensi-potensi mental Jawa. Wong Jawa sing digulamenthah lan digedhekake ing kulawarga manca mung oleh warisan biologis, ora oleh warisan sosial.
Lha gambarane wong Jawa sing wis ilang Jawane iku ya sing kaya ngono mau. Nanging keh-kehane wong Jawa sing urip ing satengahe bangsa lan kabudayaan liya, ya isih padha ngleluri kabudayane leluhure, upamane wong Jawa kang dedunung ana Suriname, wong Jawa sing daerah-daerah transrnigrasi ing luwar Jawa.
Basa lan kabudayaan Jawa iku tansah ngrembaka lan owah-gingsir nuting jaman kelakone. Kabudayaan Jawa iku perlu diuri-uri supaya lestari lan isih tetep dadi warisan kanggo anak-putu, mung bae kabudayaan mau besuke mesthi wis beda karo kabudayaan Jawa saiki, nanging ora ateges menawa wong Jawa banjur ilang Jawane. Ya mung “Jawane” wong Jawa besuk mbokmenawa wis beda karo “jawane” wong Jawa saiki.
Pancen ana bae wong Jawa sing ora njawani, sauger wong Jawa iku isih ana, kajawaane mbokmenawa uga tetep isih ana, Dadi, tetembungan “wong Jawa ilang Jawane” ora bisa disurasa kanthi wantah bae. Sing genah keiawaane wong Jawa iku owah-gingsir nuting jaman kelakone. Pamiara lan panguri-uri iku perlu, nurih kajawaan mau ora adoh mlencenge. [suaramerdeka]

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons